BANGKA BARAT.Targetsniper.com. Di awal bulan September 2026, pertanyaan besar kembali muncul di tengah masyarakat pesisir Bangka Barat: Mengapa perairan Keranggan dibiarkan terbuka bagi penambangan liar, sementara perhatian aparat terpusat hampir sepenuhnya di Pelabuhan Tanjung Kalian?

 

Satpolairud Polres Bangka Barat memang kini banyak dipuji karena keberhasilannya berulang kali menggagalkan upaya penyelundupan timah di pelabuhan. Namun kesuksesan itu justru makin menonjolkan satu kenyataan yang memprihatinkan: di tempat lain, kerusakan berjalan terus setiap hari tanpa gangguan berarti.

 

Berjalan Sepanjang Waktu, Hanya Disambut Himbauan

 

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai jejaring warga dan sumber yang dapat dipercaya, aktivitas penambangan ilegal di perairan Keranggan berjalan pagi, siang, sore, bahkan malam hari tanpa henti — sudah berlangsung hampir tiga bulan lebih. Belum ada satu pun penindakan tegas, penangkapan, atau penyitaan alat berat yang nyata dilakukan di lokasi ini. Yang ada hanyalah kunjungan singkat, pesan agar berhati-hati, lalu pergi — dan aktivitas berjalan kembali seperti semula.

 

“Pagi, siang, sore dan malam bos mereka beraktivitas di Keranggan ini. Hampir tiga bulan lebih lancar begitu saja tanpa ada yang ditangkap. Himbauan saja terus,” ungkap salah satu sumber warga yang namanya dimintai rahasia demi keselamatan.

 

Kenyataan terasa makin pahit: aparat sibuk berjaga di pelabuhan menunggu barang yang mungkin hendak diselundupkan, sementara sumber daya alam di depan mata terus diambil secara terang-terangan setiap saat.

 

Diundang dan Dijamin Aman — Dari Luar Masuk ke Keranggan

 

Ini yang paling mengagetkan warga setempat: Keranggan tidak hanya dipenuhi penambang lama. Bahkan ada pihak yang secara aktif mengajak dan menjamin keamanan bagi penambang dari daerah lain — mulai dari Tanjung Ular hingga Jungku — untuk memindahkan alat ponton selam mereka dan bekerja di sini. Janji yang ditawarkan tegas: aman siang maupun malam, tak akan diganggu.

 

“Baru-baru ini ada yang memindahkan ponton dari Tanjung Ular dan Jungku datang ke sini. Mereka diajak masuk karena diyakini ada yang menjamin keamanannya penuh,” tambah sumber itu.

 

Patroli Sia-sia Karena Bocor Sebelum Berangkat

 

Patroli atau rencana pemeriksaan yang kadang disiapkan pun kerap berakhir kosong. Warga meyakini: informasi sudah bocor duluan dari lingkungan yang seharusnya menjaga aturan. Begitu rencana disusun, lokasi sudah kosong saat aparat tiba — lalu kembali penuh sesak sesaat aparat pergi. Tanpa kebocoran ini, sulit membayangkan mereka bisa tahu lebih dulu kapan akan datang diperiksa.

 

Keraguan yang Makin Menguat: Ada yang Melindungi?

 

Semakin lama dibiarkan, semakin kuat dugaan yang tumbuh di tengah masyarakat: tidak mungkin aktivitas sebesar ini berjalan tenang begitu lama tanpa ada pihak berwenang yang ikut mendapat keuntungan. Dugaan itu mencakup dua kemungkinan — ada yang secara langsung memiliki alat penambangan atau membiayainya, maupun ada yang menerima bagian hasil setiap kilogram yang diambil atau bayaran harian dari setiap ponton yang beroperasi di bawah perlindungannya.

 

Catatan Penting: Masih Perlu Pembuktian Resmi

 

Perlu ditegaskan: dugaan keterlibatan pihak tertentu maupun oknum aparat itu tetap memerlukan pemeriksaan mendalam, bukti sah, dan pengakuan resmi untuk menjadi kenyataan yang terbukti. Namun fakta yang terlihat jelas di permukaan sudah cukup menjadi alasan kuat bagi pimpinan untuk turun sendiri memeriksa apa yang sebenarnya terjadi di bawah pengawasan jajarannya.

 

Harapan: Sama Tegasnya di Sumber, Bukan Hanya di Pintu Keluar

 

Masyarakat Bangka Barat menaruh harapan besar kepada Kapolres Bangka Barat beserta pimpinan Satpolairud: jangan hanya jaga pintu keluar saja, tapi juga pastikan sumber kerusakan dihentikan. Jika mampu memutus rantai di pelabuhan, seharusnya juga mampu menghentikan apa yang terjadi terang-terangan di perairan Keranggan. Hukum tidak boleh terlihat sibuk di satu tempat, namun seolah tidak melihat apa yang berlangsung lama di tempat lain.

 

“Pengawasan harus seimbang. Menghentikan barang saat mau dibawa pergi itu baik, tapi lebih penting lagi menghentikan pengambilan yang salah sejak awal — di tempat yang sama, setiap hari, di depan mata semua orang.” Redaksi.

 

Sumber: Rangkuman informasi lapangan, jejaring warga pesisir, dan catatan Ungkaptabir84.blogspot.com